Ada pepatah yang mengatakan ‘Belajarlah sampai Negeri Cina’. Ternyata benar bahwa kita harus banyak belajar dari Cina. Amerika bangkrut, Eropa dilanda krisis, Cina masih berjaya. Ada yang mengatakan sebagian besar Amerika kini sudah menjadi milik Cina. Ada benarnya, karena Cina banyak berinvestasi di sana.
Sayangnya saya belum punya kesempatan ke sana, malahan saya sekarang terdampar dengan nikmat di Australia. Ini terdampar kedua setelah sempat belajar selama hampir dua tahun di Perth. Disyukuri saja karena selama tiga bulan lebih di ibukota Western Australia ini, saya banyak belajar tentang kreativitas di sini.
Dengan menerapkan ilmu ‘Lirak-Lirik, Mudah Terangsang dan Tidak Pernah Puas’ (baca 'Surabaya itu Kota Kreatif'), saya menemukan hal-hal yang bisa kita ATM: Amati, Tiru, Modifikasi bahkan bisa memancing kita untuk menghasilkan inovasi.
Kreativitas banyak muncul di sini mungkin salah satunya karena orang ‘dipaksa’, mengingat sumber daya manusia (SDM) yang mahal. Mereka dituntut untuk bisa bekerja efisien dan efektif serta tampil beda untuk bisa memenangkan persaingan.
Kalau dibilang hidup di Australia lebih enak, sejatinya Indonesia lebih nikmat. Bukan hanya karena tidak ada pembantu dan sopir, tapi karena mahalnya SDM, pekerja harus serba bisa. Ambil contoh seorang Manager restoran. Kalau di Indonesia, dia kerjanya bisa dikatakan cuman ‘nyuruh-nyuruh’ dan ‘tukang ngatur’. Di Perth, dia harus mau menjadi kasir, membuat makanan dan minuman sampai membersihkan lantai dan dapur, pekerjaan yang akan menurunkan gengsi kalau dikerjakan di Indonesia. Manager gitu loh!.
Banyak hal-hal yang tampaknya kecil dan sederhana yang bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Kreativitas itu tidak selalu untuk hal-hal besar, bukan juga yang berkaitan dengan seni (baca 'Kreatif atau Mati!).
Masih ingat saat air minum dalam gelas baru diperkenalkan, begitu susahnya untuk menusukkan sedotan airnya. Hanya dengan memotong miring ujungnya, persoalan jadi selesai. Sekarang tidak sesusah dulu untuk menusukkan sedotan (meskipun kadang-kadang untuk merek tertentu juga masih susah...).
Masih tentang sedotan, ada produk kreatif (karena beda dengan yang lain) dan inovatif (karena sudah beredar di masyarakat) yang menjawab kebutuhan para Ibu agar anaknya dengan senang hati minum susu. Kalau di Indonesia, ini masalah para babby sitter atau pembantu.
Nama produknya Sipahh, Milk flavouring straws . Sedotan ini ada butiran-butiran dengan rasa coklat atau strawberry di dalamnya. Sehingga susu putih biasa kalau disedot dengan Sipaah akan ada rasanya. Bukan hanya rasanya, tetapi unsur pengalaman yang lain yang menarik bagi anak-anak. Kalau menurut Oreo: diputar,dijilat, dicelupin, untuk Sipahh: dip (dicelupin), sip (disedot), say..Ahh!. Dan hebatnya, produk ini sekali pakai, sehingga repeat buying akan terjadi. Di kemasannya ditulis bahwa paling enak kalau disedot tidak lebih dari lima menit dan digunakan hanya sekali.
Yang berikutnya adalah soal mencuci piring. Di Indonesia ini hanya menjadi masalah saat para mbak mudik lebaran. Di Australia mencuci puring adalah every body’s job, yang makan ya harus cuci piring sendiri. Memang ada mesin cuci piring, tapi masih banyak mereka yang tidak puas kalau tidak mencuci dengan tangan.
Biasanya kita mencuci piring dengan spon yang dicelupkan di cairan pembersih. Repotnya, tangan jadi kotor dan basah semua. Bagaimana kalau sponnya diberi tangkai, dan tangkainya berfungsi sekaligus sebagai semacam pipa yang bisa diisi dengan cairan pembersih dan akan keluar sedikit demi sedikit kalau sponnya ditekan?. Produk itu sudah beredar di masyarakat. Inovasi yang sederhana tapi sangat bermanfaat.
Sekarang tentang public transport. Karena nyamannya, naik bis atau kereta merupakan pilihan yang menyenangkan. Terutama kalau berpergian ke pusat kota mengingat susahnya cari tempat parkir dan juga mahalnya biaya parkir. Majunya sarana tranportasi ini bukan berarti tanpa ‘gangguan’. Salah satunya adalah masalah vandalisme. Kereta di Perth pun tidak luput dari corat coret yang dilakukan mereka yang iseng dan sok jago. Biasanya mereka melakukannya di kaca jendela. Lalu apa cara kreatif yang dipilih untuk mencegah hal ini?. Selain melalui kampanye anti vandalisme yang dilakukan secara terintegrasi di banyak media, ada cara jitu yang dipilih. Supaya gampang membersihkan kaca kereta dari corat coret, mereka memasang semacam kaca film di kaca jendela kereta!. Sehingga kalau dicorat coret ya tinggal dilepas saja lapisannya dan diganti baru. Beres!.
Itu yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, dalam urusan yang lebih strategis pun Australia bisa menjadi tempat belajar tentang kreativitas. Salah satunya adalah bagaimana cara pemerintah (masih dalam pembahasan di tingkat DPR nya Australia) mengurangi emisi karbon. Salah satunya adalah dengan menerapkan Carbon Price, yaitu semacam restribusi yang harus dibayar oleh sekitar 500 perusahaan yang menyumbang polusi karbon terbesar. Cara ini diharapkan akan membuat para perusahaan berpikir keras untuk mengurangi emisi karbonnya. Walaupun cara ini masih menjadi perdebatan politis, tapi tampaknya cara ini akan menjadi pilihan jitu.
Hal lain yang dilakukan untuk mengurangi emisi karbon adalah dengan semaksimal mungkin menggunakan renewable energy. Pemerintah sangat getol menyerukan hal ini bahkan memberi subsidi. Sekarang mulai banyak rumah-rumah yang memasang solar cell di atap rumahnya sebagai pembangkit listrik karena mereka mendapat subisidi dari pemerintah.
Di Albany, bahkan sudah dibangun Wind Farm, pembangkit listrik tenaga angin yang mensupply 75% kebutuhan energi listrik kota berjarak 400 km dari Perth ini. Hebatnya, pembangkit ini didesain sedemikian rupa sehingga menjadi obyek wisata yang sangat indah.
![]() |
| Wind Farm di Albany |
Lalu bagaimana dengan pembelajaran tentang kreativitas dan inovasi?. Australia pun tidak kalah dengan negara lain. Tanggal 16-18 November nanti akan diadakan Creative Innovation 2011 di Melbourne. Konferensi ini akan menghadirkan para creative thinkers dan innovators kelas dunia. Edrward de Bono, yang bisa dikatakan sebagai bapak kreativitas kelas dunia juga akan hadir. Semoga semuanya lancar, sehingga saya juga bisa mengikuti master class langsung dari Edward de Bono.
Apakah kreativitas juga yang akan membuat Australia bertahan dari gempuran krisis ekonomi?. Kita yang akan menjadi saksi. Paling tidak sampai saat ini, Australia masih dalam posisi aman. Dampaknya belum kelihatan dan terasa. Bahkan dollar Australia pun masih cukup kuat.

